‘Jika saya melihat tubuh almarhum, saya tidak bisa membayangkan’ – Hakim
Free

‘Jika saya melihat tubuh almarhum, saya tidak bisa membayangkan’ – Hakim

[email protected]

KUALA LUMPUR: “Kalau melihat jenazah almarhum, saya tidak bisa membayangkan, karena kalau terkena setrika uap di tangan, itu sangat sakit,” kata Hakim Pengadilan Tinggi Datuk Azman Abdullah.

Hal itu dikatakannya sebelum menjatuhkan hukuman kepada enam mantan mahasiswa Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM) yang hari ini dinyatakan bersalah menyebabkan luka tanpa niat membunuh Perwira Kadet Marinir UPNM, Zulfarhan Osman Zulkarnain.

Pengadilan menjatuhkan hukuman pada Muhammad Akmal Zuhairi Azmal, Muhammad Azamuddin Mad Sofi, Muhammad Najib Mohd Razi, Muhammad Afif Najmudin Azahat, Mohamad Shobirin Sabri dan Abdoul Hakeem Mohd Ali.

Semua terdakwa kecuali Mohamad Shobirin bersama 12 orang lainnya juga divonis tiga tahun penjara setelah dinyatakan bersalah menyebabkan Zulfarhan terluka untuk mendapatkan pengakuan bahwa korban mencuri laptop.

Kedua belas tersangka tersebut adalah Mohd Hafiz Fauzan Ismail, Mohamad Lukhmanul Hakim Mohd Zain, Ahmad Shafwan Berdal, Muhammad Amirul Asraff Mala, Luqman Hakim Shamsuri, Muhammad Sufi Mohd Mustapha, Noriznan Izzairi Noor Azhar, Muhamad Ashraf Abdullah, Muhammad Danial Firdaus Azmir, Muhammad Hasif, Muhammad Adib Iman dan Mohamad Syazwan.

Namun, hukuman penjara untuk Muhammad Akmal Zuhairi, Muhammad Azamuddin, Muhammad Najib, Muhammad Afif Najmudin dan Abdoul Hakeem diperintahkan untuk dijalankan secara bersamaan sejak tanggal penangkapan pada 1 Juni 2017. Pengadilan juga mengizinkan penundaan hukuman penjara untuk kelimanya. terdakwa menunggu banding.

Sebelumnya, keenamnya didakwa dengan pembunuhan dan bersekongkol untuk membunuh Zulfarhan dan didakwa berdasarkan Bagian 302 KUHP serta Bagian 109 dari KUHP yang sama yang mengatur hukuman mati wajib.

Namun, pengadilan memutuskan mereka bersalah atas tuduhan berdasarkan Bagian 304 (a) KUHP yang membawa hukuman penjara maksimum 30 tahun dan denda.

Sebelumnya, Azman dalam putusannya mengatakan, dalam kasus tersebut, saksi keenam (SP6) JPU, Dokter Forensik RSUP Serdang, dr Salmah Arshad membenarkan bahwa luka yang dialami Zulfarhan setara dengan luka bakar.

Ia mengatakan SP6 dan Saksi Pembela ke-19 (SD19), Kepala Bagian Kedokteran Forensik RSUD Sungai Buloh, dr Rohayu Shahar Adnan sepakat, ada 90 kasus penyetrikaan di tubuh almarhum kecuali di wajah dan punggung korban. telapak tangan.

“Dengan kata lain, jika almarhum memakai baju lengan panjang, jika berumur panjang, maka bekasnya tidak akan terlihat.

Ditambahkannya, jika ada intervensi dari Klinik As Salam Bangi, bisa menyelamatkan nyawa almarhum karena biasanya pihak rumah sakit atau puskesmas akan terus menghubungi polisi jika mencurigai pasien telah dianiaya.

“Namun, pihak klinik meyakini bahwa almarhum terlibat dalam ledakan yang menghantam seluruh bagian tubuh, termasuk penis dan buah zakar almarhum, namun tidak di bagian wajah,” katanya.

Bahkan, sebelum divonis, Azman mengatakan, meski tersangka dalam kasus tersebut adalah pelaku belia, namun aksinya seperti penjahat kelas kakap.

“Setrika uap ini sangat sakit jika menyentuh tangan. Kalau di bagian sensitif saya tidak tahu siapa pelakunya. Saya minta maaf, sedih untuk orang tua Anda karena jika tidak, Anda semua akan menjadi perwira operasi militer. , “dia berkata.

Pada tanggal 30 September, pengadilan selesai mendengarkan semua argumen pembelaan dan penuntutan di akhir kasus pembelaan.

Dalam persidangan kasus yang dimulai pada 29 Januari 2018 itu, sebanyak 31 saksi penuntut dihadirkan untuk memberikan keterangan, termasuk sanggahan (saksi yang membantah) termasuk mantan Petugas Medis UPNM, Dr Harniza Kosnan dan Dr Salmah.

Dalam sidang pembelaan diri yang dimulai pada 2 Oktober 2019, pihak pembela menghadirkan total 20 orang saksi yaitu Dr Rohayu dan mahasiswa UPNM, Muhammad Alif Farhan serta ke-18 terdakwa.

Pada tanggal 31 Juli 2019, Pengadilan Tinggi memerintahkan mahasiswa UPNM yang terlibat untuk membela diri terhadap tuduhan pembunuhan, bersekongkol dengan pembunuhan dan melukai Zulfarhan setelah menemukan bahwa penuntut telah berhasil membuktikan kasus prima facie terhadap mereka.

Lima terdakwa, Muhammad Akmal, Muhammad Azamuddin, Muhammad Najib, Muhammad Afif dan Mohamad Shobirin menghadapi dakwaan membunuh Zulfarhan, sementara Abdoul Hakeem didakwa bersekongkol dalam pembunuhan tersebut.

Mereka dituduh melakukan pelanggaran di Kamar 04-10, blok akomodasi Jebat Hostel, UPNM, antara pukul 4.45 hingga 05.45 pada tanggal 22 Mei 2017 dan didakwa berdasarkan Pasal 302 KUHP. Abdoul Hakeem, di sisi lain, menghadapi tuduhan penyertaan berdasarkan Bagian 109 dari kode yang sama yang mengatur hukuman mati wajib.

Mereka bersama 12 orang lainnya juga didakwa dengan sengaja melukai Zulfarhan untuk mendapatkan pengakuan bahwa korban mencuri laptop.

Penuntutan dilakukan berdasarkan Bagian 330 KUHP yang dibaca bersama dengan Bagian 34 dari KUHP yang sama yang memberikan hukuman penjara maksimum tujuh tahun dan denda, jika terbukti bersalah.

Semua tindak pidana tersebut dilakukan di Kamar 03-05, blok akomodasi UPNM Jebat Hostel di Kem Perdana, Sungai Besi, antara pukul 02.30 hingga 05.30 pada tanggal 21 Mei 2017.

Penuntut diwakili oleh Direktur Penuntutan Kuala Lumpur Datin Kalmizah Salleh dan Wakil Jaksa Penuntut Umum N Joy Jothi, sementara penasihat terdiri dari Amer Hamzah Arshad, Datuk Seri M Ramachelam, Datuk Ranjit Singh Dhillon, Datuk Hazman Ahmad, Zamri Idrus, Fadly Hashim dan Datuk Hazizah Kassim.

© New Straits Times Press (L) Bhd

Posted By : hk hari ini keluar